Khianat Bahasa

Sebuah curhatan UX writer asal Indonesia…

Andrew Carlos
2 min readJul 30, 2020
Hasil google translate…

“Ya, kalo web Indonesia, setiap tulisannya pake bahasa Indonesia semua dong…”

Sayangnya, hidup gak semudah tulisan di atas. Menjadi UX writer di Indonesia (setidaknya di bisnis niaga elektronik/niaga-el) punya tantangan sendiri, yaitu:

Gak semua pengguna platform niaga-el ngerti bahasa Indonesia yang baku.

Kebanyakan pengguna platform niaga-el (silakan sebutin satu-satu) faktanya lebih paham “download”, “upload”, “email”, dsb dibanding padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

(Btw, kalo lu ud ngerti padanan kata di atas itu adalah unduh, unggah, dan surel, berarti lu gak termasuk warga +62 yang kebanyakan. Selamat, lu cocok jadi ketua fans club KBBI!)

Tapi, faktanya emang gitu. Gak semua orang Indonesia ngerti bahasa Indonesia yang baku (sedih sih, tapi yawdahlah).

Jadi, ya, tolong jangan paksa gw (sebagai UX writer) untuk sepenuhnya berbahasa Indonesia di platform yang gw kerjain.

Soalnya, kalau gw mesti milih antara bahasa Indonesia baku yang gak dipahami kebanyakan orang dengan bahasa Inggris yang sudah sangat dimengerti oleh pelanggan…

Ya pasti gw pilih bahasa Inggris yang sudah sangat dimengerti pelanggan, lah!

Mungkin suatu saat akan ada waktunya bagi web Indonesia (khususnya web niaga-el) untuk sepenuhnya berbahasa Indonesia, tapi bukan sekarang (dan mungkin tidak dalam waktu dekat).

Jadi, selamat “berkhianat” teman-temanku! Silakan komentar jika tak setuju…

(Btw, niaga-el itu terjemahan e-commerce dalam bahasa kita. Jujur deh, lu sebelum liat ini, udah tau artinya niaga-el atau belum? https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/niaga-el)

(Oiya, platform itu udah diserap jadi Bahasa Indonesia juga. Kaget? Sama! https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/platform)

--

--